CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Nov 8, 2010

♥Agar Bidadari Cemburu Padamu....♥

Setangkai Cindera Hati

Untuk Para Wanita Solehah Pendamba Surga,

Pembuat Iri Bidadari dan Para Lelaki Yang Ingin Menikahi

“Sesungguhnya orang-orang bertaqwa berada ditempat yang aman. Di dalam taman -taman dan mata air – mata air. Mereka memakai sutera halus dan sutera tebal,(duduk) berhadap-hadapan.Demikianlah…dan Kami jodohkan mereka kepada bidadari bermata jeli”(QS. Ad Dukhan 51-54)


♥ Sebuah dialog panjang antara Ummu Salamah dengan Rasulullah SAW. Dialog ini merangkum sifat-sifat bidadari yang ingin kita kenali.Jika membacanya anda menjadi cemburu pada bidadari, maka tenanglah. Karena sungguh indah, bahwa dialog beliau berdua diakhiri dengan peyakinan bahwa wanita dunia lebih baik dan patut dicemburui oleh bidadari. Wanita dunia yang bagaimana?Simak Saja?

Al Imam Ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Salamah,

bahwa ia Radhiyallahu’Anha berkata,”Ya Rasulullah, jelaskan padaku firman Alloh tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli…”

Beliau menjawab,”Bidadari yang kulitnya bersih,matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar.”

Aku (ummu salamah) berkata lagi,”Jelaskan padaku ya Rasulullah, tentang firmanNya: “Laksana mutiara yang tersimpan baik…”(QS. Al Waqi’ah 23)

Beliau menjawab,” Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tak pernah tersentuh tangan manusia…”

---ukhti kamu cantik sekali--

Add caption
Ukhti, kamu cantik sekali…
Tapi hanya di mata manusia. Sedangkan yang Maha Kuasa tak pernah memandang rupa atau pun bentuk tubuh kita. Namun Ia melihat pada hati dan amal-amal yang dilakukan hamba-Nya.

Ukhti, kamu cantik sekali…
Tapi cantik fisik tak akan pernah abadi. Saat ini para pesolek bisa berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya. Namun beberapa saat nanti, saat wajah telah keriput, rambut pun kusut dan berubah warna putih semua, tubuh tak lagi tegak, membungkuk termakan usia, tak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Lebih-lebih jika telah memasuki liang lahat, tentu tak akan ada manusia yang mau mendekat.

Ukhti, kamu cantik sekali…
Tapi kecantikan hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan? Sepantasnya kecantikan disyukuri dengan cara yang benar. Mensyukuri kecantikan bukanlah dengan cara memamerkan, memajang gambar atau mengikuti bermacam ajang lomba guna membandingkan rupa, sedangkan hakekatnya wajah itu bukan miliknya. Tidakkah engkau jengah bila banyak mata lelaki ajnabi yang memandangi berhari-hari? Tidakkah engkau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa permisi karena engkau sendiri yang memajang tanpa sungkan. Ataukah rasa malu itu telah punah, musnah? Betapa sayangnya jika demikian sedangkan ia sebagian dari keimanan.

c i n t a Mu Robbi


Ya Allah,Izinkan daku menjadi sekuntum bunga,


Yang dihiasi dengan kelopak akhlaq mulia,


Harum wanginya dengan ilmu agama,


Cantiknya karena iman dan taqwa,
Namun keindahan zahirnya ku simpan rapi,


Biar menjadi rahsia yang kekal abadi,


Bukan perhatian mata ajnabi,


Yang menjadi puncak fitnah hati,



Ya Allah,Timbulkanlah duri yang memagari diri,


Agar diriku terpelihara dari noda duniawi,


Yang akan menghilangkan keharuman sejati,


Yang akan memudarkan kecantikan diri,



*hijab untuk wanita *

Assalammu'alaykum

sedikit ringkasan dari beberpa artikel

"PENTINGNYA JILBAB"

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin:Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan berkata:

Allah Ta’ala menyuruh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam agar dia menyuruh wanita-wanita mukmin , istri-istri ,dan anak-anak perempuan beliau agar mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka. Sebab cara berpakaian yang demikian membedakan mereka dari kaum wanita jahiliah dan budak-budak perempuan. Jilbab berarti selendang/kain panjang yang lebih besar dari pada kerudung. Demikian menurut Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, dan sebagainya. Kalau sekarang jilbab itu seperti kain panjang. Al-Jauhari berkata,”Jilbab ialah kain yang dapat dilipatkan”.


Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ummu Salamah dia berkata: ”Setelah ayat diatas turun, maka kaum wanita Anshar keluar rumah dan seolah-olah dikepala mereka terdapat sarang burung gagak. Merekapun mengenakan baju hitam”

Az-Zuhri ditanya tentang anak perempuan yang masih kecil. Beliau menjawab menjawab:”Anak yang demikian cukup mengenakan kerudung, bukan jilbab”
(lihat Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir ; jilid III hal:900-901 )

Lihat dalam Kitab Jilbab Wanita Muslimah karya Syaikh Al-Albani yang menjelaskan tafsir ayat tersebut dengan mengatakan pada hal:91-92, 102-103 :
“Tatkala ayat ini turun, maka wanita-wanita Ansharpun keluar rumah sekan-akan diatas kepala-kepala mereka itu terdapat gagak karena pakaian (jilbab hitam) yang mereka kenakan”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud (II:182) dengan sanad Shahih. Disebutkan pula dalam kitab Ad-Duur (V:221) berdasarkan riwayat AbdurRazaq, Abdullah bin Humaid, Abu Dawud, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari hadits Ummu Salamah dengan lafal :”Tatkala ayat ini turun, maka wanita-wanita Ansharpun keluar rumah seakan diatas kepala-kepala mereka terdapat gagak lantaran pakaian (jilbab) yang mereka kenakan” Kata”Ghurban” adalah bentuk jamak dari “Ghurab” (gagak). Pakaian (jilbab) mereka diserupakan dengan burung gagak karena warnanya yang hitam.

haji oh haji

Haji oh Haji..
Oleh: Firdaus Shaugie

Haji oh haji…
Celoteh seorang anak,,
“apa hayo yang kalo naek ga turun-turun? he,,?”
anak yang lain menjawab,
“naik keong”.. “hehe, salah..”  balas si penanya..
Sambut lainya (yang makin ngawur jawabanya),,
“naikita willy”,,
tertawa sang penanya sambil penasaran mikirin jawaban temanya tersebut,
“kenape? ko naikita willy?”,
“Hehe, coba dah, baru deket aje udeh naek ga turun-turun, apalagi udeh
naekin,” jawabnya.  Si penanya tertawa geli dan membalas;  “hahaha, dodol
luh pade, salah semue, jawaban yang bener ntuh naek haji, haehe” (jayus.com)

Haji oh haji….
Istilah “naik haji” didalam kebiasaan rakyat Indonesia memang menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. “orang tuh belum dibilang terhormat kalo belum haji”. celoteh tukang ojek. Kalau di fikir-fikir, ada benarnya juga, bagaimana tidak, haji itu butuh banyak pengorbanan, disamping mahal harganya (ongkos berangkat, ongkos orang yang ditinggal haji, ongkos selametan, dan yang paling penting amplop buat penceramahnye, hehe, lahan jurusan PAI), haji juga dituntut untuk melakukan ritual yang menguras tenaga dan waktu.
Uniknya di Indonesia, kata “haji” menjadi titel atau gelar tersendiri dari nama seseorang yang telah pergi haji. Padahal Rasul dan sahabatnya telah haji berkali-kali, tapi tidak pernah diberi title H. Muhammad SAW atau H. Utsman Bin Affan r.a. hehe, yes this is onlay on Indonesiay (maaf, Cuma dapet 200 toafelnya).
Dengan title haji, orang bisa jadi terhormat, dengan titel haji, orang bisa jadi terpandang. Haji Mi’un, Haji Djait, Haji Kempet, Haji Firdaus (amien dong,,), dan banyak lagi haji-haji yang lain menjadi terhormat dengan gelar haji yang dipakainya, walau beberapa yang haji itu cuma lulusan SD, ga bisa adzan, ga bisa ngaji, ga bisa shalat, yang penting haji, jadi terhormat, masuk surga deh. Insya Allah. Begitulah pemikiran kebanyakan orang kita, dan mungkin inilah salah satu yang menjadi motivasi orang-orang untuk berangkat haji.
Haji oh haji…
Ditengah himpitan ekonomi yang mencekik, cabe yang mahal, minyak tanah yang udah 8rb seliter, sama sandal yang sudah putus (ape hubunganya ya??), 80 juta (ongkos + oleh-oleh buat tetangga) bagi kebanyakan orang seperti saya, dan anda yang membaca (maaf kalau tersinggung) adalah uang yang “luar biasa banyak”. Butuh waktu bertahun tahun bahkan setengah abad untuk bisa mengumpulkanya.
Ya, sekali lagi, bagi orang yang pas-pas-an (menengah kebawah per-ekonomianya), haji menjadi sebuah cita-cita yang sulit dicapai, penghasilan satu juta perbulan menjadi momok menakutkan. Ibarat lagu Rossa, “Bagaikan memeluk bulan, mencium bintang, ber-alaskan matahari, berkalungkan planet Merkurius.” (maaf, lebay).