CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Dec 2, 2024

Hari Ke-10: Hidup Adalah Proses Belajar Tanpa Henti

Tinggal di lingkungan internasional di Saudi adalah perjalanan pembelajaran yang tak pernah selesai. Dari cara hidup hingga cara berpikir, semuanya berbeda dari apa yang aku tahu sebelumnya.


Aku ingat momen pertama menghadiri acara komunitas internasional. Aku merasa seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Aku terpesona oleh keberagaman budaya, tetapi juga sering merasa canggung. Contohnya, waktu aku membawa makanan khas Indonesia ke acara potluck. Aku khawatir apakah orang-orang akan suka, tapi ternyata semua orang penasaran, bahkan bertanya tentang bahan dan resepnya.


Tantangan terbesar datang dari adaptasi cara berpikir. Di sini, aku bertemu orang-orang yang begitu menghargai waktu, disiplin, dan etos kerja. Mereka tidak hanya bekerja keras, tetapi juga tahu kapan harus beristirahat dan menikmati hidup. Ini menyadarkanku bahwa hidup bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi juga bagaimana menjalaninya dengan seimbang.


Setiap hari, aku belajar untuk menerima perbedaan. Tidak semua harus sama, dan justru dari perbedaan itulah kita bisa tumbuh. Hidup di lingkungan internasional mengajarkanku untuk tidak cepat menilai, tapi mendengarkan dan memahami.


Dan yang paling penting, aku belajar bahwa kita tidak pernah berhenti belajar, di mana pun kita berada. Hidup adalah sekolah tanpa ujian akhir, dan tugas kita adalah menikmati prosesnya.



Dec 1, 2024

Hari Ke-9: Aku belajar bahasa Inggris lagi.

Awal tinggal di Saudi, salah satu tantangan besar adalah beradaptasi dengan lingkungan Internasional. Bertemu orang-orang dari berbagai negara dengan aksen Inggris yang berbeda-beda benar-benar pengalaman baru bagiku.

Aku dapat kesempatan jadi Volunteering di Sekolah TKS (The Kaust School). Cuma sekedar mau tau dan mau belajar. Aku terbantu oleh Istri seorang Indonesia yang menikah dengan wanita yg berwarga negara Australia.  Aku mulai diperkenalkan guru-guru setempat dan mendengar beraneka ragam aksen bahasa Inggris.

Ternyata hal yang paling sulit adalah memahami aksen orang Australia. Logat mereka yang cepat, banyak memotong kata, dan suara yang seolah "meloncat-loncat" membuatku sering kebingungan. Aku ingat suatu hari seorang teman asal Australia mengatakan, "Howya goin'?" Aku diam sebentar, bingung. "Going where?" jawabku polos. Dia tertawa dan menjelaskan bahwa itu hanya berarti "How are you?"

Sebenarnya, ini bukan hanya soal aksen. Gaya bicara, pilihan kata, bahkan ekspresi tubuh mereka berbeda dari yang biasa aku temui. Teman-teman dari negara lain, seperti Inggris, Australia, atau Amerika, punya cara unik masing-masing dalam berbicara. Aku merasa seperti mendengar dialek yang berasal dari bahasa yang sama tetapi memiliki "rasa" berbeda.

Namun, meski sulit, aku belajar untuk tidak menyerah. Aku mulai mendengarkan mereka dengan lebih saksama. Kadang-kadang aku minta mereka mengulang atau menjelaskan arti sebuah frasa. Untungnya, mereka sangat sabar. Dalam proses ini, aku menyadari bahwa memahami aksen adalah soal kebiasaan dan keberanian untuk bertanya.

Seiring waktu, percakapan yang dulu terasa canggung berubah menjadi momen-momen menyenangkan. Aku mulai paham bagaimana berbicara dengan mereka tanpa terlalu merasa minder. Bahkan, aku merasa ini seperti latihan mendengarkan dialek yang berbeda, sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.

Hari ini, saat aku bertemu orang-orang baru dengan aksen unik, aku tersenyum dan berkata pada diri sendiri, Ini adalah kesempatan lain untuk belajar. Aku sadar, perbedaan dalam bahasa bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk saling memahami dan menerima satu sama lain.

Alhamdulillah 

Nov 30, 2024

Hari Ke-8: Belajar Berdiri Sendiri

 Awal pernikahan kami adalah awal perjalanan yang penuh tantangan. Seminggu setelah menikah, aku dan suami harus menjalani Long Distance Mariage. Karna suami harus menjalani orientasi di kampusnya sedangkan aku masih menunggu visa. Kami bertemu kembali setelah 4 bulan berpisah. Pertengahan Desmber 2013 aku merantau ke Saudi. Dan ini pertama kalinya aku merantau jauh dari ibukota.

Meski tinggal di Arab Saudi, lingkungan kami tinggal menggunakan bahasa Inggris. Sebagai seorang istri baru di lingkungan asing, dengan kemampuan bahasa Inggris yang sangat terbatas, aku merasa seluruh dunia ini terlalu besar dan asing. Dan satu-satunya tempat aku merasa aman hanyalah di sisi suami.

Aku sangat bergantung padanya—untuk hal besar maupun kecil. Dari berbelanja, berkomunikasi, hingga sekadar meminta arahan. Rasanya, tanpa dia, aku seperti anak kecil yang tersesat di keramaian.

Tapi seiring berjalannya waktu dan aku mendengar sebuah kajian, beliau berkata : "Sebagai istri, kita memang wajib taat dan mendukung suami. Tapi jangan pernah menggantungkan seluruh hidupmu padanya. Dia adalah manusia yang terbatas, sama seperti kita. Dan hanya Allah yang pantas menjadi sandaran sejati."

Kata-katanya menamparku. Meski hanya mengandalkan komunikasi tapi aku harus bisa sendiri. Karna suami gak akan selamanya bersamaku.

Aku mencoba berubah. Aku mulai belajar lebih banyak—beradaptasi dengan lingkungan, memperbaiki bahasa Inggris, dan mencoba berdiri lebih mandiri. Dan abang memang selalu "melepasku" bukan karna tak ingin pergi bersama. Dia ingin istrinya belajar mandiri. Dari dulu memang suamiku berusaha mengajarkanku untuk lebih mandiri di sini.Dan dia tau istrinya bisa melakukannya hanya saja butuh kepercayaan diri yang lebih.

Awalnya berat, karena aku terbiasa bergantung. Tapi perlahan, aku merasa lebih kuat. Alhamdulillah sekarang aku bisa menghandle apapun sendiri. Dulu urusan telephone dengan orang asing aja, aku bisa keringat dingin. Aku lebih sering menghindar klo bertemu asing ketika sama-sama menunggu. Alhamdulillah atas izin Allah, aku bisa lebih percaya diri meski bahasa inggriku tidak terlalu mahir.

Sejak itu, Aku melihat suamiku sebagai partner, bukan penyelamat. Kami saling mendukung, saling menguatkan, tapi pada akhirnya, kami sama-sama harus terus mengingat bahwa hanya Allah yang Maha Menguatkan dan tempat berserah. 

Nov 28, 2024

Hari Ke-7: Jangan Berharap dengan Manusia

Hijrah mengajarkan banyak hal, tapi salah satu pelajaran terbesar yang aku dapat adalah: jangan pernah menggantungkan harapan sepenuhnya pada manusia.

Dulu, sebelum benar-benar memahami, aku sering berpikir bahwa kebahagiaan itu datang dari orang lain—dari teman, keluarga, bahkan pasangan. Tapi semakin aku belajar, semakin aku menyadari, manusia itu terbatas. Sekalipun orang itu sangat baik, dia tetap punya kelemahan.

Aku ingat, pernah suatu hari aku kecewa pada suamiku. Saat itu, aku marah, sedih. Tapi kemudian aku berpikir, "Kenapa aku menggantungkan kebahagiaanku pada dia? Bukankah dia juga manusia biasa yang punya keterbatasan?"

Aku membuka Al-Qur'an dan menemukan ayat yang membuatku merenung dalam:

"Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal." (QS. At-Taubah: 129).

Di titik itu aku sadar, Allah sedang mengingatkanku untuk bergantung pada-Nya. Bukan berarti kita tidak boleh mencintai atau berharap pada pasangan, tapi harapan tertinggi itu hanya pantas ditujukan kepada Allah.

Sekarang, setiap kali merasa kecewa, aku berusaha mengingat bahwa pasangan kita juga manusia biasa. Mereka bisa berbuat salah, bisa lupa, atau bahkan tidak mampu memenuhi harapan kita. Dan itu tidak apa-apa. Karena tugas kita bukan menuntut kesempurnaan dari mereka, tapi saling mendukung untuk menjadi lebih baik.

Lagi pula, jika kita terlalu bergantung pada manusia, kita hanya akan lelah sendiri. Tapi ketika kita bersandar pada Allah, Dia yang akan menguatkan hati kita. Karena hanya Dia yang tidak pernah mengecewakan.

Jadi, untuk diriku sendiri dan siapa pun yang membaca ini, mari belajar untuk mengurangi ekspektasi kepada manusia. Fokuslah pada bagaimana kita bisa menjadi pasangan, teman, atau sahabat yang lebih baik. Dan percayalah, ketika kita menyerahkan segalanya kepada Allah, Dia akan mengganti segala kekurangan manusia dengan cinta dan ketenangan yang sejati.

Hari Ke-6: Lingkaran Kecil yang Mengubah Hidupku

Dulu, aku merasa sudah cukup baik hanya dengan berjilbab. Tapi ternyata, ada yang hilang—pemahaman tentang makna hijrah yang sebenarnya. Liqo adalah pintu awal yang membuka kesadaranku. Aku masih ingat, acara LDKS di remaja masjid itu mempertemukanku dengan komunitas ini. Lingkaran kecil yang sederhana tapi penuh makna.

Pertemuan seminggu sekali ini bukan sekadar duduk mendengar materi. Di sana, aku menemukan kehangatan yang berbeda. Tidak ada yang menghakimi, tidak ada yang merasa lebih baik. Kami, tujuh-sembilan perempuan muda, datang dengan latar belakang dan cerita hidup masing-masing.

Aku masih remaja, masih suka nongkrong, masih belajar menjaga lisan. Tapi teman-teman liqo ini membuatku merasa diterima apa adanya. Mereka adalah cerminan versi diriku yang lebih baik, sekaligus pengingat bahwa aku punya potensi besar untuk berubah.

Setiap pertemuan terasa seperti recharge iman. Kami tidak hanya belajar tentang agama, tapi juga saling berbagi kisah dan tawa. Ada sesi menghafal Qur’an, diskusi, hingga obrolan ringan tentang masalah-masalah remaja. Aku yang dulu canggung, perlahan merasa nyaman.

Yang paling berkesan adalah bagaimana liqo ini mengubah caraku memandang pergaulan. Aku sadar, berteman itu tak perlu dibatasi, tapi harus diarahkan. Aku tetap nongkrong dengan teman-teman lain, tapi dengan cara yang lebih baik. Aku ingin mereka melihat bahwa menjalankan agama tidak membuatku kehilangan jati diri, malah semakin memperkaya kepribadianku.

Lambat laun, aku mulai mengajak teman-teman dekatku untuk ikut kegiatan masjid. Meski tak selalu berhasil, aku tetap bahagia bisa menunjukkan contoh kecil melalui perubahan sikapku. Dakwah itu, aku belajar, tidak selalu harus besar dan langsung. Kadang cukup dari akhlak sehari-hari.

Liqo mengajarkanku untuk selalu bersyukur, untuk terus berusaha, dan untuk mencintai agamaku dengan sepenuh hati. Mungkin perjalanan ini masih panjang, tapi aku yakin, selama aku berada di lingkaran ini, aku tak akan tersesat.

Lingkaran kecil itu bukan sekadar komunitas, melainkan tempat aku menemukan versi terbaik dari diriku.