CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Aug 18, 2021

Foto Mesra Di Sosial Media


Bunga di Hotel Shaza Mekkah 13 Agustus 2021



Ada masanya ketika masih lajang, memasuki usia 20 tahun, iri melihat teman sudah menikah dan bermesraan di sosial media mereka dengan pasangan halalnya. Dan jujur saya tidak suka melihatnya. Ketika saya menikah, ternyata sayapun melakukan hal yang sama. Mungkin benar kata orang, jatuh cinta itu membuat lupa segalanya. Terlebih kami menikah tanpa pacaran. Jadi pacaran setelah pernikahan seperti mabuk cinta kata para pujangga. Tapi, seiring berjalannya waktu memasuki pernikahan tahun ke enam pada saat itu. Jadi malu pernah melakukan hal itu. (Mohon maaf yang singlelillah, astagfirullah) 🤭

Tahun ini memasuki tahun kedelapan pernikahan kami. Alhamdulillah masyaallah tabarakallah. Menikah dengan seseorang yang tak suka foto, apalagi foto berdua atau difotoin. Membuat saya pun jadi malas dengan foto bersama. Tapi bukan berarti kami tak saling cinta. Alhamdulillah, di delapan tahun ini kami bener-bener merasa lebih lengket, lebih dekat meski kami tak pernah menunjukan hal itu di hal layak umum bahkan di keluarga besar kamipun, kami terlihat dingin. Karena kami akan menghargai betapa orang tua kita lebih cinta dengan anaknya ketibang diri ini yg baru hidup beberapa tahun dengan anaknya. Itu sebabnya kami menjaga perasaan orang tua.

Saya pun makin belajar bahwa foto berdua di sosial media tak menjamin mereka hidup bahagia. Betapa banyak para selebgram menikah belum sampai 5 tahun bahkan dengan kemesraan yg mereka tampilan tak akan menyangka mereka mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga padahal harta dan popularitas tak di ragukan sama sekali. Benar kata ustadz2 ketika khutbah nikah dalam pernikahan itu yg paling penting sakinah, mawwaddah dan warahma.. sebuah ketenangan yang harus hadir dalam sebuah pernikahan. Bila salah satunya hilang, harus ingat lagi dan evaluasi lagi apa tujuan pernikahan untuknya.

Aug 13, 2021

Tentang Hati



Sebagai muslim, kita percaya bahwa Allah tidak melihat harta kita, seberapa ganteng/cantik kita, Allah tidak melihat seberapa terkenalnya kita. Tapi, Allah lihat hati kita.

Sebuah hadist Rasulullah saw juga banyak menjelaskan bahwa, ada seorang penghafal Qur'an, rajin sedekah, ustadz tp dia mereka tidak masuk surga karna niat di hatinya. Hatinya bukan untuk Allah melainkan manusia.

Waktu dengerin kajian parenting pun, sering marah-marah ke anak suruh cek hati kita.
Sering tersinggung sama orang, cek hati kita, sering su'udzon cek hati, merasa kurang dan kufur cek hati.
Sering bertengkar sm pasangan cek hati. Sholat gak khusyuk cek hati, kok tahajud gak bangun2 cek hati.

Jadi semuanya lagi-lagi hati.
Kalo mau semuanya baik, perbaiki hati, cari obat hati. Karna hati adalah kuncinya.

Hati memang sangat mudah terkotori terlebih zaman sosmed begini. Ustadz2 pun banyak yg mengingatkan. Jangan pernah berhenti berdoa untuk meminta kesucian jiwa.

اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allah, karuniakan ketakwaan pada jiwaku. Sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkaulah yang menjaga serta melindunginya. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak manfaat, hati yang tidak khusyuk, dan doa yang tidak dikabulkan.” HR Muslim.

Jadi, klo apa2 galau.. periksa hati? Di sana ada Allah atau hamba Allah (manusia).

#nasihatuntukanik

Jul 18, 2021

(Lagi) Belajar Hidup sehat bersama suami

Sudah hampir dua tahun, covid 19. Sudah ratusan berita duka yang kita terima, banyak kerabat yang menjanda, anak-anak yang yatim. Meski kita tak bisa menyalahkan selain semua itu sudah takdir Allah swt. Belum lagi yang meninggal tak mengenal usia. Bahkan masih muda ternyata covid dengan penyakit bawaan gula/diabetes.
Berangkat dari sana, Alhamdulillah sudah hampir setahu saya sedang belajar hidup sehat. Belum sehat banget, masih makan gorengan tapi, makan dengan mindful. Gimana makan dengan tenang, tidak makan segalanya. Atau kalo sudah terlalu banyak yang di masuk ke mulut, olahraganya di tambah. 

Saya dan suami sebenarnya suka olahraga. Setelah punya anak terkadang waktu bersama mereka menjadi alasan untuk males olahraga. Waktu bulan Mei lalu di ingatkan google photo klo kami pernah sekurus itu.😂

7 years ago, sebelum punya anak. hampir setiap hari ke gym.


Dan di awal tahun 2021, saking saya ingin tahu bagaimana hidup sehat sebenarnya. Saya ikut kelas berbayar selama 3 bulan. Di sana saya di kasih workout plan dan meal plan. Dari sana saya jadi tahu banyak. Alhamdulillah 
Keberhasilan dalam hidup sehat bukan berpotakan dengan timbangan tapi juga sedikit kemajuan sangat berarti. Contoh sederhanaya ternyata hari ini saya bisa loh makan tanpa nasi tapi diganti dengan ubi atau kentang. Dan ternyata lebih kenyang. Bisa olahraga plank 1 minute. Bb gak turun tapi, lingkar perut berkurang. 

Saya yang sedang semangat olahraga dan makan makanan sehat. Suami belum, dia olahraga hanya bola dan badminton. Niat ada tp klo mau ke gym banyak alasan. Yah intinya dia belum mau tergerak. Meski klo makan, beliau memang dari dulu harus ada sayur dan menu jangan ayam atau daging. Kami lebih sering ikan atau tahu dan tempe. 

Hari demi hari, mencari cara agar kami bisa kembali ke hidup sehat. Alhamdulillah Qodarullah Allah kasih jalan dengan melihat postingan ustadz Bendri.



Setelah baca postingan beliau, saya tanya ke suami. 

A : yang, kamu sayang sama aku?
W : iyah sayang
A : kamu mau menua dengan aku kan? 
W : of course.. 
A : ayuk olahraga bareng yuk.. ini aku abis baca postingan ustadz bendri. Klo km sayang sm aku, kita sama2 belajar hidup sehat. Kita menua bersama supaya hidup bs lebih panjang umur. Insyaallah meski umur tak ada yg tahu. 
W : ayukk... 


Alhamdulillah sudah seminggu kami minimal banget being active jalan bareng 5000 langkah setiap sore, anak-anak naik sepeda. Kemarin kami booking court buat hijaz main badminton n basket. Saya jogging2.





Hidup sehat bukan untuk kurus. Tapi, biar semakin tua semakin produktif. Makin bermanfaat untuk banyak orang. Bismillah mudah-mudahan istiqomah. 
-anik-


Jul 15, 2021

Ngobrol bareng suami "Bila kami pindah?" Part 2




Kekhawatiran saya bertambah ketika saya melihat instgram story salah satu teman yang saya follow. Beliau pulang ke Indo setelah keluarga kecilnya menetap salah satu negara maju di eropa. Lebih tepatnya salah satu negara yang menerima abang untuk menjadi posdoc di sana.

Kenapa abang pilih di sana? Kalo secara globa, negara ini banyak muslimnya. Saya gak mau sebut nama, (doain aja klo memang ini yang terbaik).

Ketika saya membaca ig story teman sy itu, beliau bilang alasan-alasan pulang ke Indo karena anak-anaknya merasa lebih baik sekolah di Indonesia dengan lingkungan yg muslim terbanyak dan banyak hal yg beliau jabarkan.
sy jadi sangat khawatir ketika membacanya, bagaimana ini berada di negara minoritas muslim, bagaimana mendidik anak anak yg saat ini masih masa keemasan. 
Saya sampaikan kecemasan saya kepada suami selaku kapten di keluarga kecil saya.

Abang sampaikan "sayang, setiap keluarga pasti punya nilainya dan tujuannya masing-masing. mengenalkan anak agar cinta dengan agama Islam, dengan Tuhan-Nya Allah dan Rasul-Nya, menjadikan anak-anak sholeh tetap dari orang tuanya yg utama. Pendidikan utama tetap dari rumah, di manapun berada. Una tau, abang gak mau anak-anak kehilangan masa2 keemasan bersama daddynya. Sekolah di Indonesia untuk saat ini pun tak menjamin anak-anak kita mendapatkan lingkungan yang baik. Lingkungan buruk pasti akan selalu ada di mana saja, bahkan di sini (red arab saudi) pun tetep ada kan? Jadi jangan takut dan khawatir soal itu. Iman kan tidak dapat di warisi tapi, dari akhlak orang tua tetep yg utama. 

Kita belajar dari orang-orang pakistan, India yg muslim. Mereka ada di negara-negara kafir tapi, mereka bs. Bagaimana yasir Qadi, nouman ali khan. Di sinilah tantangan kita sebagai orang tua. "Kalo  keluarga kita dakwah dan bisa bermanfaat di negara Indonesia sudah biasa, kita jadikan keluarga kecil kita keluarga dakwah dan bermanfaat di negara minoritas muslim bahwa luar biasa insyaallah", dan jangan tinggalkan untuk selalu berdoa karena semua itu pasti bisa atas izin Allah..

Jangan terlalu di khawatirkan ya..
Abang tau una terlalu khawatir karena una sayang Kita akan sama-sama sayang. InsyaAllah.. kamu juga insyaallah bs berkarya di sana. 😊 -nasihat abang-

Masyaallah tabarakallah barokallahu fiik sayang.. insyaallah una selalu mendukung apapun pilihan kamu, semoga Allah beri kita umur panjang dan berkah.. Allah mudahkan urusan-urusan kita..

Doa una dan Hijaz hamim akan selalu mengiringi.

Jul 14, 2021

Ngobrol bareng suami "bila kami pindah?" Part 1

"Bagaimana bila kami pindah ke negara minoritas? Bagaimana mendidik anak-anak ini di lingkungan minoritas?" Begitulah pertanyaan besar ketika abang dapat 2 tempat kerja di negara minoritas.

Jadi setahun ini, kami memang tidak jelas kemana arah kami setelah abang lulus. Desember lalu, abang ud dapat tawaran posdoc di salah satu professor di KAUST tapi, professor ini terkenal moody dan professor abang yg sekarang kurang setuju karna karir abang bs tak berkembang dengan beliau karna beliau juga terkenal "mengekang". Awalnya abang terima tawaran itu dan abang tahun lalu rencana mau sidang phdnya. Qodarullah batal sidangnya sebulan sebelum tanggal sidang karna benar saja tiba-tiba di prof yg mau menerima abang bilang tidak jadi. Alhamdulillah professor abang yg sekarang ini memang berhati malaikat masyaallah, beliau memberi saran untuk di undur sambil mencari funding untuk posdoc abang.

FYI, kalo peneliti itu butuh dana namanya di sebut funding. Karena Abang mahasiswa di kaust, abang gak bisa pakai dana dari professor harus cari dari industri atau perusahaan luar.

Berusaha mencari dana, begadang-begadang untuk usaha bagaimana membuat profosal yang baik. Alhamdulillah jalan keluar ketemu. Dengan bertemunya salah seorang teman Indonesia yg bekerja di salah satu bidang yang mendanai hanya saja ini tetap punya KAUST. Hampir 2 bulan menunggu, Alhamdulillah proposal itu jebol. Kami sujud syukur. Tapi, seminggu kemudian awal Juni abang menerima email, bahwa per mei dana itu tidak bisa digunakan untuk mendanai riset abang dari mahasiswa kaust untuk jadi posdoc kaust.
Sedih? Normal

Dan sejujurnya, kami masih ingin di sini. Karena bagaimanapun ini tetap negara muslim meski di luar lingkungan kami memang sangat berkurang keislamannya.

Masyaallah tabarakallah memang abang belum mencari lowongan-lowongan ke tempat lain, karena masih optimis kami bs di sini. Namanya manusia kami hanya bs berencana. Sisanya Allah yang menentukan. Saat kabar itu kami terima, abang baru mulai mencari lowongan, alhamdulillah dari 2 aplikasi yang abang kirim keduanya mendapat jawaban positif. Dan keduanya di negara muslim minoritas. :")