Ada masanya ketika masih lajang, memasuki usia 20 tahun, iri melihat teman sudah menikah dan bermesraan di sosial media mereka dengan pasangan halalnya. Dan jujur saya tidak suka melihatnya. Ketika saya menikah, ternyata sayapun melakukan hal yang sama. Mungkin benar kata orang, jatuh cinta itu membuat lupa segalanya. Terlebih kami menikah tanpa pacaran. Jadi pacaran setelah pernikahan seperti mabuk cinta kata para pujangga. Tapi, seiring berjalannya waktu memasuki pernikahan tahun ke enam pada saat itu. Jadi malu pernah melakukan hal itu. (Mohon maaf yang singlelillah, astagfirullah) 🤭
Tahun ini memasuki tahun kedelapan pernikahan kami. Alhamdulillah masyaallah tabarakallah. Menikah dengan seseorang yang tak suka foto, apalagi foto berdua atau difotoin. Membuat saya pun jadi malas dengan foto bersama. Tapi bukan berarti kami tak saling cinta. Alhamdulillah, di delapan tahun ini kami bener-bener merasa lebih lengket, lebih dekat meski kami tak pernah menunjukan hal itu di hal layak umum bahkan di keluarga besar kamipun, kami terlihat dingin. Karena kami akan menghargai betapa orang tua kita lebih cinta dengan anaknya ketibang diri ini yg baru hidup beberapa tahun dengan anaknya. Itu sebabnya kami menjaga perasaan orang tua.
Saya pun makin belajar bahwa foto berdua di sosial media tak menjamin mereka hidup bahagia. Betapa banyak para selebgram menikah belum sampai 5 tahun bahkan dengan kemesraan yg mereka tampilan tak akan menyangka mereka mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga padahal harta dan popularitas tak di ragukan sama sekali. Benar kata ustadz2 ketika khutbah nikah dalam pernikahan itu yg paling penting sakinah, mawwaddah dan warahma.. sebuah ketenangan yang harus hadir dalam sebuah pernikahan. Bila salah satunya hilang, harus ingat lagi dan evaluasi lagi apa tujuan pernikahan untuknya.





