Tahun ini adalah
tahun ke tujuh saya menjalankan Ramadhan di Arab Saudi. Alhamdulillah Allah
masih pertemukan lagi Ramadhan tahun ini. Dan masih berharap Ramadhan tahun ini
lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan Allah terima amalan kita. Aamiin
Ramadhan tahun
ini terasa berbeda, karena sejak virus covid-19 ini menyebar ke seluruh
dunia termasuk di Arab Saudi pada bulan Maret lalu, seluruh mahasiswa,
karyawan, pelajar melakasanakan aktifitas di dalam rumah termasuk urusan ibadah
untuk meminimalisir penyebaran virus ini.
Apa yang terjadi
di dunia ini pasti atas skenario yang Allah tuliskan. Dan pasti banyak hikmah
yang bisa kita ambil dari kejadian ini. Salah satunya adalah hadirnya imam-imam
di rumah masing-masing.
Ramadhan tahun
ini memang berbeda tetapi, bukan berarti kita tidak semangat beribadah atau
produktif di rumah. Meski di rumah saja percayalah Allah Maha Melihat perbuatan
kita dan semoga kita tetap bisa
mengoptimalkan Ramadhan tahun ini.
Tahun kali ini
memang makin tertantang ibadah di rumah dengan memiliki dua anak. Terasa sekali
bedanya dari kami hanya berdua dengan suami sampai sekarang sudah berempat. Ketika
sholat lima waktu berjamah mungkin tidak memakan waktu sehingga anak bayi tidak
rewel bila di tinggal sholat tetapi, ketika ibadah sholat tarawih tak jarang
seorang ibu akhirnya tidak tarawih karena ikut tidur ketika meniduri anak. Sangat
disayangkan terlebih di bulan Ramadhan ini.
Pada dasarnya
untuk laki-laki sholat lima waktu wajib sholat berjamaah di Masjid.
Rasulullah saw
bersabda:
”Demi Dzat
yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang
untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan
shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang
untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat
jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka”. HR. Bukhari no. 644 dan Muslim
no. 651.
Nabi shallallahu
’alaihi wa sallam memperingatkan keras laki-laki yang meninggalkan shalat berjamaah
yaitu ingin membakar rumah mereka. Hal ini tentu menunjukkan bahwa shalat
jama’ah adalah wajib. Tapi, Islam itu agama yang muda. Ketika ada udzur
memperbolehkan untuk laki-laki sholat di rumah, salah satunya ketika
Hujan/wabah seperti saat ini. Ditengah wabah ini, sudah hamper 3 bulan suami
sholat 5 waktu berjamaah di rumah bersama saya dan anak-anak dan ditambah
tarawih saat Ramadhan.
Saya akan
membagi tips pengalaman keluarga kecil kami bagaimana sholat berjamaah bersama
anak-anak sehingga kita bisa khusyu dalam sholat dimasa pendemik ini. Diantaranya:
1. Memberikan Pemahaman
Memberi pemahaman kepada anak usia diatas 3 tahun insyaAllah sudah bisa
diajak kerjasama. Menjelaskan kepadanya kenapa kita sholat, berapa kali kita
sholat dalam sehari. Untuk Hijaz usia 4 tahun sudah tidak akan rewel bila
ditinggal sholat.
Apakah Hijaz ikut sholat?
Saya dan suami tidak memaksakan dia untuk ikut sholat hanya sekedar
mengajak. Karena diusianya yang belum wajib untuk sholat. Salah satu hakikat
ibadah adalah Pengagungan kita kepada Sang Penciptaan. Yang perlu ditanamakan
adalah rasa cinta kita ke Allah. Saat ini kami masih menjadi “PR” mendidik
Hijaz untuk mencintai Allah. Sehingga kelak ia beribadah terutama sholat bukan
karena paksaan kedua orang tuanya.
2. Penuhi Haknya
Sholat bersama bayi memiliki keseruan sendiri ya buat ibu-ibu. Tapi,
bukan menjadi alasan kita untuk tidak sholat. Terlebih saat Ramadhan ini,
jangan sampai kita melewati momennya.
Sholat bersama bayi dan anak diatas 3 tahun pastikan perutnya kenyang,
untuk bayi juga pastikan popoknya sudah kering sehingga nyaman. Ketika di
tengah sholat dia rewel, sholatlah sambil menggendong anak. Ini gunanya kita membersihkan popok sebelum
sholat. Sehingga Kita sudah pastikan tidak ada najis ketika kita sholat dan
menggendongnya.
3. Lingkungan Aman
Memberikan lingkungan yang aman, ketika kita sholat membiarkan anak-anak
mengeksplor sekitar tempat kita sholat dan pastikan tempatnya aman untuk mereka
dan kita tidak memikirkan dia. Kita bisa fokus dan khusyuk dalam sholat.
-
Bila di rumah ada tangga,
pastikan tangga tidak bisa dijangkau anak bayi terlebih bayi yang sedang aktif
merangkak atau jalan. Saya menggunakan safety gate
-
Semua pintu sudah tertutup
-
Lubang-lubang saluran
listrik sudah tertutup
-
Benda-benda yang
membahayakan dan bisa diraih bayi disimpan baik-baik.
-
Tempat sampah di tempat
yang tidak bisa diraih anak terutama anak yang sedang senang mengeksplor.
4. Siapkan amunisi
Menyiapkan amunisi sehingga anak bisa teralihkan dari kita. Contohnya:
buku, mainan, makanan. Saya pribadi tidak memberikan gadget/tv sebagai
pengalihan atau solusi.
Ketika Sholat Tarawih
1. Pastikan anak-anak sudah rapi, bersih, siap untuk tidur. Sholat
tarawih kami selalu di Kamar dan memastikan semua aman.
2. Tergantung mood anak-anak.
Kalau anak-anak
tidur siang (Hamim (1tahun) tidur siangnya lama) biasanya, setelah sholat isya
berjamaah lanjut tarawih. Tetapi, bila anak-anak tidak tidur siang, setelah
sholat isya, lalu ba'diyah Isya. Kami membiarkan mereka tidur terlebih dahulu. Lalu,
kami melanjutkan sholat tarawih.
3. Siapkan amunisi
Saya biasa
menggunakan LCD drawing/writing tablet" hemat kertas, bukan gadget,
buku dan mainan.
Berdoa
Dari segala ikhtiar yg kita
lakukan, tak lain tak bukan kecuali izin dan kehendak Allah. Senjatanya umat
muslim adalah doa. Jadi banyak-banyaklah berdoa. Semoga Allah mudahkan. Allah
mudahkan untuk beribadah.
Anak hadir ke dunia bukan sebagai penghalang
kita untuk beribadah.
Mereka hadir dengan segala fitrahnya.
Janganlah menjadikan anak sebagai alasan untuk
jauh dari Allah.
Jadilah teladan untuk mereka. –Anik Sofiyah-
Biodata Penulis :
Anik Sofiyah, Istri dan ibu dari dua orang anak sholeh. yang kini sedang merantau di Arab Saudi menemani suami yang sedang melanjutkan program s3 di KAUST. Menulis dan belajar merupakan beberapa hal yang saya senangi. untuk bersilaturahim silakan kirim email aniksofiyah49@gmail.com atau Ig : @aniksofiyah_