CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Dec 2, 2024

Hari Ke-10: Hidup Adalah Proses Belajar Tanpa Henti

Tinggal di lingkungan internasional di Saudi adalah perjalanan pembelajaran yang tak pernah selesai. Dari cara hidup hingga cara berpikir, semuanya berbeda dari apa yang aku tahu sebelumnya.


Aku ingat momen pertama menghadiri acara komunitas internasional. Aku merasa seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Aku terpesona oleh keberagaman budaya, tetapi juga sering merasa canggung. Contohnya, waktu aku membawa makanan khas Indonesia ke acara potluck. Aku khawatir apakah orang-orang akan suka, tapi ternyata semua orang penasaran, bahkan bertanya tentang bahan dan resepnya.


Tantangan terbesar datang dari adaptasi cara berpikir. Di sini, aku bertemu orang-orang yang begitu menghargai waktu, disiplin, dan etos kerja. Mereka tidak hanya bekerja keras, tetapi juga tahu kapan harus beristirahat dan menikmati hidup. Ini menyadarkanku bahwa hidup bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi juga bagaimana menjalaninya dengan seimbang.


Setiap hari, aku belajar untuk menerima perbedaan. Tidak semua harus sama, dan justru dari perbedaan itulah kita bisa tumbuh. Hidup di lingkungan internasional mengajarkanku untuk tidak cepat menilai, tapi mendengarkan dan memahami.


Dan yang paling penting, aku belajar bahwa kita tidak pernah berhenti belajar, di mana pun kita berada. Hidup adalah sekolah tanpa ujian akhir, dan tugas kita adalah menikmati prosesnya.



Dec 1, 2024

Hari Ke-9: Aku belajar bahasa Inggris lagi.

Awal tinggal di Saudi, salah satu tantangan besar adalah beradaptasi dengan lingkungan Internasional. Bertemu orang-orang dari berbagai negara dengan aksen Inggris yang berbeda-beda benar-benar pengalaman baru bagiku.

Aku dapat kesempatan jadi Volunteering di Sekolah TKS (The Kaust School). Cuma sekedar mau tau dan mau belajar. Aku terbantu oleh Istri seorang Indonesia yang menikah dengan wanita yg berwarga negara Australia.  Aku mulai diperkenalkan guru-guru setempat dan mendengar beraneka ragam aksen bahasa Inggris.

Ternyata hal yang paling sulit adalah memahami aksen orang Australia. Logat mereka yang cepat, banyak memotong kata, dan suara yang seolah "meloncat-loncat" membuatku sering kebingungan. Aku ingat suatu hari seorang teman asal Australia mengatakan, "Howya goin'?" Aku diam sebentar, bingung. "Going where?" jawabku polos. Dia tertawa dan menjelaskan bahwa itu hanya berarti "How are you?"

Sebenarnya, ini bukan hanya soal aksen. Gaya bicara, pilihan kata, bahkan ekspresi tubuh mereka berbeda dari yang biasa aku temui. Teman-teman dari negara lain, seperti Inggris, Australia, atau Amerika, punya cara unik masing-masing dalam berbicara. Aku merasa seperti mendengar dialek yang berasal dari bahasa yang sama tetapi memiliki "rasa" berbeda.

Namun, meski sulit, aku belajar untuk tidak menyerah. Aku mulai mendengarkan mereka dengan lebih saksama. Kadang-kadang aku minta mereka mengulang atau menjelaskan arti sebuah frasa. Untungnya, mereka sangat sabar. Dalam proses ini, aku menyadari bahwa memahami aksen adalah soal kebiasaan dan keberanian untuk bertanya.

Seiring waktu, percakapan yang dulu terasa canggung berubah menjadi momen-momen menyenangkan. Aku mulai paham bagaimana berbicara dengan mereka tanpa terlalu merasa minder. Bahkan, aku merasa ini seperti latihan mendengarkan dialek yang berbeda, sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.

Hari ini, saat aku bertemu orang-orang baru dengan aksen unik, aku tersenyum dan berkata pada diri sendiri, Ini adalah kesempatan lain untuk belajar. Aku sadar, perbedaan dalam bahasa bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk saling memahami dan menerima satu sama lain.

Alhamdulillah 

Nov 30, 2024

Hari Ke-8: Belajar Berdiri Sendiri

 Awal pernikahan kami adalah awal perjalanan yang penuh tantangan. Seminggu setelah menikah, aku dan suami harus menjalani Long Distance Mariage. Karna suami harus menjalani orientasi di kampusnya sedangkan aku masih menunggu visa. Kami bertemu kembali setelah 4 bulan berpisah. Pertengahan Desmber 2013 aku merantau ke Saudi. Dan ini pertama kalinya aku merantau jauh dari ibukota.

Meski tinggal di Arab Saudi, lingkungan kami tinggal menggunakan bahasa Inggris. Sebagai seorang istri baru di lingkungan asing, dengan kemampuan bahasa Inggris yang sangat terbatas, aku merasa seluruh dunia ini terlalu besar dan asing. Dan satu-satunya tempat aku merasa aman hanyalah di sisi suami.

Aku sangat bergantung padanya—untuk hal besar maupun kecil. Dari berbelanja, berkomunikasi, hingga sekadar meminta arahan. Rasanya, tanpa dia, aku seperti anak kecil yang tersesat di keramaian.

Tapi seiring berjalannya waktu dan aku mendengar sebuah kajian, beliau berkata : "Sebagai istri, kita memang wajib taat dan mendukung suami. Tapi jangan pernah menggantungkan seluruh hidupmu padanya. Dia adalah manusia yang terbatas, sama seperti kita. Dan hanya Allah yang pantas menjadi sandaran sejati."

Kata-katanya menamparku. Meski hanya mengandalkan komunikasi tapi aku harus bisa sendiri. Karna suami gak akan selamanya bersamaku.

Aku mencoba berubah. Aku mulai belajar lebih banyak—beradaptasi dengan lingkungan, memperbaiki bahasa Inggris, dan mencoba berdiri lebih mandiri. Dan abang memang selalu "melepasku" bukan karna tak ingin pergi bersama. Dia ingin istrinya belajar mandiri. Dari dulu memang suamiku berusaha mengajarkanku untuk lebih mandiri di sini.Dan dia tau istrinya bisa melakukannya hanya saja butuh kepercayaan diri yang lebih.

Awalnya berat, karena aku terbiasa bergantung. Tapi perlahan, aku merasa lebih kuat. Alhamdulillah sekarang aku bisa menghandle apapun sendiri. Dulu urusan telephone dengan orang asing aja, aku bisa keringat dingin. Aku lebih sering menghindar klo bertemu asing ketika sama-sama menunggu. Alhamdulillah atas izin Allah, aku bisa lebih percaya diri meski bahasa inggriku tidak terlalu mahir.

Sejak itu, Aku melihat suamiku sebagai partner, bukan penyelamat. Kami saling mendukung, saling menguatkan, tapi pada akhirnya, kami sama-sama harus terus mengingat bahwa hanya Allah yang Maha Menguatkan dan tempat berserah. 

Nov 28, 2024

Hari Ke-7: Jangan Berharap dengan Manusia

Hijrah mengajarkan banyak hal, tapi salah satu pelajaran terbesar yang aku dapat adalah: jangan pernah menggantungkan harapan sepenuhnya pada manusia.

Dulu, sebelum benar-benar memahami, aku sering berpikir bahwa kebahagiaan itu datang dari orang lain—dari teman, keluarga, bahkan pasangan. Tapi semakin aku belajar, semakin aku menyadari, manusia itu terbatas. Sekalipun orang itu sangat baik, dia tetap punya kelemahan.

Aku ingat, pernah suatu hari aku kecewa pada suamiku. Saat itu, aku marah, sedih. Tapi kemudian aku berpikir, "Kenapa aku menggantungkan kebahagiaanku pada dia? Bukankah dia juga manusia biasa yang punya keterbatasan?"

Aku membuka Al-Qur'an dan menemukan ayat yang membuatku merenung dalam:

"Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal." (QS. At-Taubah: 129).

Di titik itu aku sadar, Allah sedang mengingatkanku untuk bergantung pada-Nya. Bukan berarti kita tidak boleh mencintai atau berharap pada pasangan, tapi harapan tertinggi itu hanya pantas ditujukan kepada Allah.

Sekarang, setiap kali merasa kecewa, aku berusaha mengingat bahwa pasangan kita juga manusia biasa. Mereka bisa berbuat salah, bisa lupa, atau bahkan tidak mampu memenuhi harapan kita. Dan itu tidak apa-apa. Karena tugas kita bukan menuntut kesempurnaan dari mereka, tapi saling mendukung untuk menjadi lebih baik.

Lagi pula, jika kita terlalu bergantung pada manusia, kita hanya akan lelah sendiri. Tapi ketika kita bersandar pada Allah, Dia yang akan menguatkan hati kita. Karena hanya Dia yang tidak pernah mengecewakan.

Jadi, untuk diriku sendiri dan siapa pun yang membaca ini, mari belajar untuk mengurangi ekspektasi kepada manusia. Fokuslah pada bagaimana kita bisa menjadi pasangan, teman, atau sahabat yang lebih baik. Dan percayalah, ketika kita menyerahkan segalanya kepada Allah, Dia akan mengganti segala kekurangan manusia dengan cinta dan ketenangan yang sejati.

Hari Ke-6: Lingkaran Kecil yang Mengubah Hidupku

Dulu, aku merasa sudah cukup baik hanya dengan berjilbab. Tapi ternyata, ada yang hilang—pemahaman tentang makna hijrah yang sebenarnya. Liqo adalah pintu awal yang membuka kesadaranku. Aku masih ingat, acara LDKS di remaja masjid itu mempertemukanku dengan komunitas ini. Lingkaran kecil yang sederhana tapi penuh makna.

Pertemuan seminggu sekali ini bukan sekadar duduk mendengar materi. Di sana, aku menemukan kehangatan yang berbeda. Tidak ada yang menghakimi, tidak ada yang merasa lebih baik. Kami, tujuh-sembilan perempuan muda, datang dengan latar belakang dan cerita hidup masing-masing.

Aku masih remaja, masih suka nongkrong, masih belajar menjaga lisan. Tapi teman-teman liqo ini membuatku merasa diterima apa adanya. Mereka adalah cerminan versi diriku yang lebih baik, sekaligus pengingat bahwa aku punya potensi besar untuk berubah.

Setiap pertemuan terasa seperti recharge iman. Kami tidak hanya belajar tentang agama, tapi juga saling berbagi kisah dan tawa. Ada sesi menghafal Qur’an, diskusi, hingga obrolan ringan tentang masalah-masalah remaja. Aku yang dulu canggung, perlahan merasa nyaman.

Yang paling berkesan adalah bagaimana liqo ini mengubah caraku memandang pergaulan. Aku sadar, berteman itu tak perlu dibatasi, tapi harus diarahkan. Aku tetap nongkrong dengan teman-teman lain, tapi dengan cara yang lebih baik. Aku ingin mereka melihat bahwa menjalankan agama tidak membuatku kehilangan jati diri, malah semakin memperkaya kepribadianku.

Lambat laun, aku mulai mengajak teman-teman dekatku untuk ikut kegiatan masjid. Meski tak selalu berhasil, aku tetap bahagia bisa menunjukkan contoh kecil melalui perubahan sikapku. Dakwah itu, aku belajar, tidak selalu harus besar dan langsung. Kadang cukup dari akhlak sehari-hari.

Liqo mengajarkanku untuk selalu bersyukur, untuk terus berusaha, dan untuk mencintai agamaku dengan sepenuh hati. Mungkin perjalanan ini masih panjang, tapi aku yakin, selama aku berada di lingkaran ini, aku tak akan tersesat.

Lingkaran kecil itu bukan sekadar komunitas, melainkan tempat aku menemukan versi terbaik dari diriku.


Nov 26, 2024

Hari Kelima: Berkahnya Bergabung di Lingkaran Kebaikan

 Di tengah perjalanan mengenal Islam lebih dalam, aku bersyukur sekali dipertemukan dengan liqo—sebuah kelompok kecil yang rutin bertemu setiap minggu. Awalnya aku ikut berawal dari kegiatan "traning motivasi" dari remaja masjid dekat rumah.  Ternyata selepas acara, kegiatan mentoring berlanjut. Meski naik-turun, datang dan pergi. Alhamdulillah ini menjadi jalan aku merasa di jagain Allah.

Kegitan liqo sendiri, suasananya jauh dari yang aku bayangkan. Tidak ada tekanan, tidak ada kesan menggurui. Kami hanya duduk melingkar di ruang tamu salah satu kaka pengisi liqo, mendengarkan materi islami yang disampaikan dengan bahasa sederhana, penuh cerita, dan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.


Minggu demi minggu aku merasa ada yang berbeda dalam diriku. Liqo bukan hanya sekadar tempat belajar agama, tapi juga menjadi ruang di mana aku bisa merefleksikan diriku sendiri. Teman-teman di kelompok ini juga sangat suportif. Mereka tidak pernah menghakimi, justru mendukung prosesku untuk menjadi lebih baik. Meski ada masanya pergantian kaka liqo adalah hal terberat. Tapi, liqo udah menjadi sebuah kebutuhanku.

Banyak sekali materi yang paling membekas di hatiku. Sering kali materi-materinya sangat pas sesuai kebutuhan hati.

Liqo juga memberiku keberanian untuk memperbaiki niat dalam berteman. Dari kelompok ini, aku belajar bahwa dakwah tidak harus dengan kata-kata yang besar. Cukup dengan sikap yang baik, tetap rendah hati, dan tidak memutuskan silaturahmi, itu sudah menjadi bentuk dakwah yang nyata.

Kini, setiap kali aku berkumpul dengan teman-teman liqo, aku merasa dikelilingi energi positif yang menguatkan. Aku tidak hanya belajar tentang agama, tapi juga tentang kehidupan. Dan yang paling penting, aku merasa tidak lagi sendiri dalam perjalanan ini. Di setiap lingkaran kecil itu, ada semangat untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Alhamdulillah.



Hari ke empat : Pergaulan Remaja

Ketika aku mulai belajar tentang jilbab, aku merasa ada panggilan hati untuk menjadi lebih baik. Tapi aku tahu, perubahan itu bukan berarti memutuskan hubungan dengan orang-orang di sekitarku, apalagi teman-teman lama. Aku percaya, pergaulan yang baik adalah salah satu cara untuk berdakwah—bukan dengan menghakimi, tapi dengan menjadi contoh.

Dulu, aku sering nongkrong bersama teman-teman dari berbagai latar belakang. Mereka yang belum berjilbab, mereka yang suka berbicara ceplas-ceplos, bahkan mereka yang masih jauh dari agama. Tapi aku tidak pernah merasa itu alasan untuk menjauh. Justru, aku merasa itu adalah kesempatan bagiku untuk berbagi kebaikan tanpa memaksa.

Ada satu momen yang selalu kuingat. Saat itu, kami sedang duduk di warung kecil di dekat sekolah, membicarakan hal-hal ringan. Salah satu temanku bertanya, “Nik, lo gak risih apa pakai jilbab terus, bahkan kalau nongkrong kayak gini?” Pertanyaan itu dilontarkan tanpa maksud buruk, hanya rasa penasaran.

Aku tersenyum dan menjawab, “Enggak, gw justru nyaman. Ini seperti pelindung untuk gw. gw tetap bisa bareng kalian, tetap bisa ngobrol kayak biasa. Jilbab ini gak membatasi gw buat jadi teman yang sama seperti dulu.”

Jawaban itu membuat mereka terdiam sejenak. Lalu, salah satu dari mereka berkata, “Tapi gue kadang malu sendiri, lo udah sejauh ini. Gue ngerasa belum siap.” Aku menatapnya lembut dan menjawab, “Gak apa-apa. Setiap orang punya waktunya masing-masing. Gw cuma berharap, kalau suatu saat lo siap, kamu bakal ingat bahwa ini semua bukan tentang orang lain, tapi tentang hubungan kita dengan Allah.”

Sejak saat itu, percakapan kami berubah. Aku mulai merasa ada celah untuk menyisipkan nilai-nilai kebaikan dalam obrolan sehari-hari. Mereka tetap bercanda seperti biasa, tapi ada rasa hormat yang tumbuh. Mereka tidak lagi mengajak bercanda dengan topik yang kurang pantas di depanku. 

Aku sadar, dakwah itu tidak harus selalu dengan dalil panjang atau ceramah yang berat. Terkadang, senyum, sabar mendengarkan, dan tetap menjadi teman yang bisa diandalkan adalah cara terbaik untuk menunjukkan bahwa Islam itu indah. Aku ingin mereka melihat bahwa berhijab, belajar agama, atau mendekat kepada Allah tidak membuat seseorang berubah menjadi orang yang kaku atau jauh dari pergaulan.

Bagiku, hijrah itu adalah proses panjang yang tidak hanya mengubah diri sendiri, tapi juga membawa orang lain ke dalam kebaikan dengan cara yang lembut. Dakwah adalah perjalanan cinta, bukan paksaan. Dan aku percaya, setiap langkah kecil yang kutempuh bersama teman-temanku ini adalah bagian dari jalan menuju keridhaan-Nya.

Nov 24, 2024

Hari Ketiga: Pertanyaan yang Mengubah Arah Hidupku



Aku memulai SMA dengan membawa kebiasaan dari madrasah—berjilbab. Bukan karena aku memahami apa yang aku lakukan, tapi lebih karena kebiasaan dan tuntutan lingkungan. Namun, aku tetap menjadi remaja biasa. Aku menikmati nongkrong bersama teman-teman, tertawa lepas, dan terkadang lupa diri. Di tengah itu semua, jilbabku terasa seperti pelengkap, bukan perwujudan dari keyakinan yang mendalam.

Hingga suatu hari, seorang teman bertanya dengan nada santai, “Nik, kenapa lu pakai jilbab?” Pertanyaan itu sederhana, tapi entah kenapa, seperti menamparku. Aku tidak punya jawaban yang berarti. Aku hanya menunduk dan berkata, “Ya karena aku sudah terbiasa.”

Jawabanku sendiri terasa kosong. Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkannya. Apa benar aku hanya memakainya karena kebiasaan? Kalau begitu, apakah yang kulakukan ada nilainya di hadapan Allah?

Malam itu, aku duduk di kamar, merenungi hidupku. Aku ingat setiap momen ketika aku merasa nyaman tertawa bersama teman-teman, namun jarang sekali teringat untuk berdoa atau membaca Al-Qur’an. Aku mulai merasa ada yang hilang dalam diriku. Aku memakai jilbab, tapi aku tidak benar-benar mengerti apa maknanya. Aku merasa jauh dari apa yang seharusnya menjadi identitas seorang Muslimah.

Aku mulai mencari jawaban. Dengan langkah kecil, aku meminjam buku-buku tentang Islam dari kakak di TPA. Aku membaca tentang hijab, tentang arti menjadi seorang Muslimah, tentang tanggung jawabku sebagai hamba Allah. Aku menghadiri mentoring. Aku bahkan bertanya pada teman-teman yang lebih paham, meskipun rasa malu sering menghalangiku.

Perjalananku tidak mudah. Ketika aku mulai mencoba memperbaiki diri, lingkungan sekitarku tidak selalu mendukung. Beberapa teman mulai merasa aku berubah. Mereka bilang aku tidak seru lagi karena aku tidak ikut nongkrong sebanyak dulu. Ada juga yang menganggap aku terlalu serius. Itu menyakitkan, tapi aku sadar bahwa perubahan sering kali membawa kehilangan.

Namun, setiap kehilangan itu digantikan dengan sesuatu yang lebih berharga. Aku menemukan ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ibadah, dan makna dalam setiap kain yang menutupi tubuhku. Hijab yang dulu hanya kebiasaan, kini menjadi lambang keyakinan.

Aku belajar bahwa hijrah bukanlah tentang menjadi sempurna. Ini adalah perjalanan untuk terus menjadi lebih baik. Setiap langkah kecil yang kuambil—meski disertai keraguan, meski terasa berat—aku yakin Allah menghargainya.

Hingga hari ini, aku terus berproses. Hijrahku tidak selesai dalam semalam. Aku masih belajar untuk menjadi hamba yang lebih taat, untuk menjadikan hijabku bukan hanya simbol, tapi bukti dari cinta dan kepatuhanku kepada Allah.

Jika kalian merasa belum siap untuk berubah, ketahuilah bahwa setiap perjalanan besar dimulai dari langkah kecil. Tidak apa-apa jika perjalanan itu lambat. Yang penting, kita terus bergerak menuju Allah, karena Dia selalu menanti dengan rahmat-Nya.


Nov 23, 2024

Hari Kedua: Jilbab, Kebiasaan, dan Dunia Remaja

 


Assalamu’alaikum!

Hari ini aku ingin berbagi cerita tentang awal mula aku memakai jilbab. Sejak SMP, aku sudah mengenakannya karena sekolahku adalah Madrasah Tsanawiyah (MTS) yang mewajibkan semua siswi berjilbab. Tapi yang menarik, aku tetap memakainya di luar sekolah meskipun saat itu aku belum paham dalil atau alasan sebenarnya. Bagiku, jilbab hanya bagian dari rutinitas, bukan sebuah pilihan sadar.

Namun, seperti remaja pada umumnya, aku juga menjalani masa-masa nongkrong dan bermain bersama teman-teman. Aku sering menghabiskan waktu di luar rumah, jalan-jalan, dan bersenda gurau tanpa memikirkan banyak hal. Aku merasa seperti anak muda lainnya—bebas dan penuh semangat, meski mengenakan jilbab.

Jujur, saat itu aku belum benar-benar memaknai jilbabku sebagai bentuk ketaatan. Aku lebih memakainya karena sudah terbiasa, bukan karena memahami bahwa itu adalah perintah Allah. Kadang aku bertanya-tanya dalam hati, "Apakah aku benar-benar sudah mencerminkan seorang Muslimah yang baik?" Tapi, seperti kebanyakan anak muda, aku lebih sibuk menikmati masa remaja daripada mencari jawaban atas pertanyaan itu.

Ada masa di mana aku merasa jilbab itu hanya sekadar penampilan luar, sementara hatiku masih perlu banyak diperbaiki. Aku sadar, perilaku dan pilihan hidupku belum sepenuhnya mencerminkan makna jilbab yang sesungguhnya. Namun, aku bersyukur karena Allah memberiku waktu dan kesempatan untuk belajar.

Seiring waktu, aku mulai lebih banyak mengikuti kajian, membaca buku, dan mendengar ceramah yang membuka pandanganku. Aku mulai memahami bahwa jilbab bukan hanya penutup tubuh, tapi juga perlindungan dan simbol identitas seorang Muslimah. Allah memerintahkannya bukan untuk membatasi, melainkan untuk menjaga dan memuliakan.

Kini, aku masih terus berproses. Aku belajar untuk tidak hanya memperbaiki penampilan, tetapi juga memperbaiki hati dan perilaku. Aku ingin jilbabku bukan hanya kain yang menutup tubuh, tapi juga cerminan dari keinginanku mendekat kepada Allah.

Dan meskipun aku dulu sering nongkrong layaknya anak muda biasa, aku percaya bahwa perjalanan setiap orang itu berbeda-beda. Hijrah itu bukan tentang seberapa cepat kita berubah, tetapi tentang seberapa tulus usaha kita untuk menjadi lebih baik.

Semoga cerita ini bisa menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil kita menuju kebaikan adalah bentuk cinta Allah kepada kita.

Salam hangat,
Una

Nov 22, 2024

Awal Perjalanan


Assalamu’alaikum!

Aku Anik, tapi setelah menjadi ibu, beberapa orang mulai memanggilku Una. Kalau ingin tahu alasan panggilan itu, kalian bisa baca cerita-ceritaku sebelumnya.

Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku laki-laki, dan adikku juga laki-laki. Kehidupan kami dulu sederhana. Banyak pengalaman yang membentukku menjadi seperti sekarang, termasuk perjalanan panjang tentang cinta, keyakinan, dan hijrah.

Dulu, aku pernah merasakan cinta "monyet" yang penuh harapan. Hubungan itu rumit; dia juga suka, tapi tidak pernah memberikan status yang jelas. Aku mencintainya terlalu dalam, tetapi akhirnya merasa terluka karena ketidakpastian. Itu adalah pengalaman yang benar-benar mengajarkan arti mencintai dengan batas.

Ketika aku memutuskan untuk hijrah, meninggalkan cara hidup lama yang kurang baik demi mendekatkan diri kepada Allah, aku sadar bahwa hubungan yang tidak pasti hanya membawa luka dan menjauhkan dari-Nya. Sejak itu, aku berjanji pada diriku sendiri: tidak akan ada lagi pacaran. Jika cinta itu benar, biarlah ia datang pada waktunya, dengan cara yang Allah ridhoi.

Aku adalah tipe orang yang cuek terhadap penampilan. Bukan karena tidak peduli, tapi aku merasa nyaman dengan diriku apa adanya. Namun, tidak semua orang bisa memahaminya. Pernah seorang teman berkata, "Kalau lu kayak gitu, gimana mau punya pacar?" Kata-kata itu cukup menohok. Sesaat aku merasa rendah diri, tapi aku tidak ingin terus terpuruk. Aku percaya satu hal: jodohku adalah bagian dari rencana Allah, bukan penilaian manusia.

Dan ternyata, Allah telah menyiapkan seseorang yang luar biasa—Wandi, atau yang biasa kupanggil Abang.

Abang adalah sahabat kakakku, sosok yang dikenal pintar dan berwibawa di lingkungan kami. Dari kecil, dia sering mengingatkan teman-temannya untuk saling mengajak kepada kebaikan. Aku masih ingat jelas, saat SMP, dia mengajakku dan teman-teman seumuranku ikut dauroh kepemimpinan. Itu adalah salah satu momen yang membekas hingga hari ini.

Mentoring mingguan yang menjadi kelanjutan dari dauroh itu berdampak besar bagiku. Setiap kali bertemu, Abang selalu bertanya, "Masih mentoring, Nik?" Kalimat sederhana itu seperti tamparan halus yang membuatku terus berusaha menjadi lebih baik.

Abang memang terkenal baik ke semua orang. Dia adalah sosok yang ramah, pintar berbicara, dan punya hati yang tulus. Dulu, aku dan sahabatku, Ria dan Elfa, pernah bercanda, "Siapa ya yang bakal jadi istri Bang Wandi? Dia kan kaku banget," sambil tertawa terbahak-bahak.

Bagiku, Abang adalah sosok seperti kakak. Dia sering main ke rumah bukan untuk mendekatiku, tapi karena dia sahabat kakakku. Saat itu, aku menganggap kebaikannya seperti perhatian seorang kakak kepada adik kecilnya.

Namun, waktu dan takdir Allah punya rencana lain. Siapa sangka, aku yang dulu hanya melihatnya sebagai figur kakak yang dihormati, kini berdiri di sisinya sebagai pasangan hidup.

Hidup memang penuh kejutan. Jika ada satu pelajaran yang kuambil dari perjalanan ini, itu adalah: jangan pernah ragu untuk menyerahkan segalanya kepada Allah. Dia tahu apa yang terbaik untuk kita, bahkan sebelum kita menyadarinya. Sampai hari ini, aku terus bersyukur atas jalan yang Allah pilihkan. Semoga aku dan Abang terus saling mendukung, saling menguatkan, dan bersama-sama menuju surga-Nya.

May 29, 2023

1 juz pertama Anik!

Pukul 4 di swedia biasanya sudah terang berderang. Tapi, tida hari ini. Alhamdulillah hari ni matahari tertutup awan  gelap. 

Penih haru, 4.30 waktu swedia ini hari aku pertama setoran 1 juzku ke sang guru. 
Haru, grogi, meski belum sempurna. Merasa berat sekali.. yang membuat berat adalah bisakah aku Istiqomah?

Allah.. ini mimpiku 12 tahun yang lalu.
Ini cara aku makin dekat dengan-Mu..
Ini keinginanku yang hari2 ingin sellau sibuk dengan Qur'an. Semoga menjadi syafaatku kelak, dan selalu menjadi teman.

Semoga rahmat selalu teriringi setiap langkah kami. 


semoga Allaah Ta'ala menerima bacaan kita semuanya dan senantiasa dimudahkan untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai dzikir harian 💕


اللهُمَّ ارْزُقْنَا بِكُلِّ حَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ حَلَاوَةً وَبِكُلِّ كَلِمَةٍ كَرَامَةً وَبِكُلِّ آيَةٍ سَعَادَةً وَبِكُلِّ سُوْرَةٍ سَلَامَةً وَبِكُلِّ جُزْءٍ جَزَاءاً

"Ya Allah, karuniakan kepada kami setiap hurufnya kelezatan, setiap katanya karamah, setiap ayatnya kebahagiaan, setiap suratnya keselamatan, dan setiap juznya balasan yang sempurna."

Aamiin yaa mujiibassaailiin 🤍

Semua kehebatan kita bukan karna kehebatan kita tp karna atas izin Allah dan  nikmat dari-Nya

Catat disini : semoga bila lelah itu hadir. Tulisan ini jadi pengingat. 

Apr 11, 2023

#serialuna Ramadhan 1444H

Hai..
Bagaimana kabar Ramadhan kamu?
Bagaimana kabar target2 yang pernah direncankan?

10 hari lagi yang tersisa.. ramadhan akan ergi berlalu. Dan entah akankah ada kesempatan bertemu lagi atau tidak..

Btw,
Aku mau kasih kabar, aku baik-baik aja di sini. Alhamdulillah..

Ramadhan tahun ini, tahun kedua merasakan puasa di Swedia. Gak ada yg special karna ini bukan negara muslim, gak ada yang jual takjil, ngabuburit sambil cari takjil, dengar azan bersaut-sautan, masjid ramai dengan orang2 bangunin sahur, sama aja seperti hari-hari biasanya. 

Tapi, aku dan keluarga membuat special di rumah. Mendekor rumah sampai beli lampu bernuasan ramadhan untuk di kamar. Punya target sama2..

Alhamdulillah hijaz belajar puasa. Meski gak bs disamakan dengan anak2 teman2 yang tinggal di Indonesia. Dia bisa menahan lapar 4-6 jam. Una udah tetep bangga. Karna sejatinya bukan bisa atau engga bisa. Tapi, puasa Ramadan cara kita lebih dekat dengan Allah. Aku masih sebisa mungkin menanamkan tauhidnya, dr sholatnya, apapun yg dia lakukan. Doain ya..


Target Ramadhan ini ternyata simple puasa 15-17 jam 5 menit berbuka rasanya terpuaskan. Sesimple makan kolak hari ini besok buat tempe.. ternyata gak perlu lapar mata. Karna perut kita bisa sehebat itu Allah buat. Bahkan, saking kenyangnya terkadang sahur dengan pisang dan susu protein. Alhamdulillah atas izin Allah, Allah kuatkan. 
Nyatanya hikmah tinggal di Swedia, sangat menyerderhanakan makanan tanpa harus kalap mata. Makan apa aja yg ada di depan mata. 

Malam yang begitu singkat,, sering kali tidur sedikit sekali. Ramadan tahun ini special, hijaz dan abang berkurangnya jatah umur di dunia, 10 tahun pernikahan yang masih Allah Jaga. Alhamdulillah 

10 tahun juga lebaran cm 1x di Indonesia, mengajarkan sederhana. Bahwa kemenangan itu gak mesti serba baru. Yg terpenting ada perbaikan setelah Ramadhan yg terjalanin.

Semoga Allah terima amalan2 kita baik besar atau kecil..mari melanjutkan perjalanan yang tersisa.. 

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka Afuwwun [Karimun ] tuhibbul `afwa fa`fu `annee

O Allah, indeed You are Pardoning, [Generous,] You love pardon, so pardon me

Tirmidhi: 3513

Mar 29, 2023

#serialuna : Perubahan Setelah menjadi ibu (part 1)

Tahun ini InsyaAllah 7 tahun aku menjadi seorang ibu. Tak pernah terbayangkan se-Wow itu menjadi ibu. Banyak sekali perubahan yang aku lalui.
Salah satunya adalah gak pusing walo tidurnya bangun-bangun untuk menyusui.

Tahun ke-3 pernikahan, kami ditemani buah hati kami sebagai pelengkap keluarga kecil kami. Diperantauan kami membesarkan anak kami berdua saja tanpa ART tanpa orang tua. Kami orang tua baru sering panik ketika terjadi apapun. Badan remuk abis melahirkan, kelopak mata menghitam karna begadang. Tapi, Alhamdulillah aku berterima kasih sama abang yang kita lalui sama-sama. Begadang, terkadang bergantian, abang izinkan aku istirahat. Ditengah kesibukannya jadi mahasiswa, beliau masih sempatkan masak untuk istrinya. Meski menu sederhana sayur bening bayam dan telur rebus. Rasanya bahagia tak terhingga.

Kekuatan baru setelah memiliki anak, tidak pusing meski tidur sering terbangun. Sebelum memiliki anak, aku suka pusing klo tdr kebangun-bangun atau tidak pulas. Alhamdulillah Allah kasih kekuatan meski tidur perjam bangun untuk menyusui, lalu per 3jam, Alhamdulillah biidznillah..

Aku juga berterima kasih sama mba Angi dan Mba Ajeng. Yang menemaniku dikala sedih baby blues butuh teman bercerita sebagai ibu baru. 

Perubahan dari berdua lalu bertiga, sibuk urusan bayi hingga lupa diri sendiri. Terkadang menangis tanpa jelas, inginnya abang selalu di sisi. Pernah aku rasakan. Tapi, kini telah terlewati. jadi pelajaran di hari ini. 
Ada kisah yang terukirkan bahwa kita melewati bersama ya sayang.. kita jadi makin mengenal. Terima kasih untuk pundak yg selalu sigap.
Terima kasih untuk pelukan dikala butuh ketenangan.
Terima kasih untuk tangan yang mengadah berdoa untuk istrinya. Terima kasih kejutan, celotehan selalu bikin istrinya tersenyum meski kala itu berat untuk tersenyum. 

Ramadan ini 10 tahun kami bersama, rasanya masih seperti baru kemarin kita sama-sama. Alhamdulillah 
♡ Una 



#serialuna : Alasan dipanggil Daddy dan Una ^^

Setelah menikah dengan abang, kami gak langsung diberikan anak. Setahun setelah menikah, aku sempat hamil tapi Qodarullah keguguran dengan janin yang masih sangat muda. 

Setelah itu, Allah takdirkan setahun kemudian setelah penantian di penghujung Ramadhan 2015, Kabar mengejutkan. Akhirnya garis dua itu menghampiri keluarga kecil kami. Seneng bukan main. Alhamdulillah...belajar dari pengalaman pertama yg heboh, tapi bikin trauma. Membuatku diam-diam selama kehamilan selama sebulan dari orang terdekat. Hanya aku, abang, dan Allah yg tahu.

Selama nikah, kami gak ada pembahasan nanti klo ud jadi ibu panggilannya apa ya.. hidup normal seperti biasa. Kami hanya memanggil dengan panggilan sayang. Kayaknya dulu ud sibuk sama penyesuaian kita berdua. Apalagi aku yang masih kayak bocah. Malu pokoknya kalo diinget. 

Selama kehamilan, abang meminta panggilan babeh ke bayi yg saya kandung. Panggilan babeh karna beliau anak betawi asli. 
Setiap hari diajak ngobrol, "assalamu'alaykum.. babeh pulang ni dengerin babeh ngaji ya.". Setiap denger kata itu, si bayi selalu ugel-ugelan tak bs diam. Kamipun tertawa bersama. 
Sedangan setiap aku ajak bicara, aku membahasakan diriku ke si bayi dengan panggillan ibuk. Entahlah, aku seneng aja dipanggil ibuk..

Setelah lahir, abang bilang "panggil aja una" kayak abang arsa (anak dari salah seorang teman Indonesia yang sama2 merantau di ksa) manggil bundanya dengan panggilan una. Kala itu arsa tidak bs memanggil dengan panggilan bunda tapi, una. 

Seiring berjalanannya waktu, una dan babeh... hijaz, bayi yang kami kandung semakin besar. Ketika usianya 1tahun 4 bulan. Kami kirim tempat penitipan anak/daycare karna aku mulai kerja lagi. 

Mungkin karna teman-temannya, yang biasa kami bahasakan babeh. Kata yg keluar dari mulut hijaz adalah daddy. Haha sangat 
tidak cocok buat kami, anak kampung yang nyemplung di kawasan International. 😂

Jadilah kini Hijaz memanggil Daddy dan Una.



Dec 16, 2022

Being his wife

Menjadi seorang istri jauh di perantauan itu  gak mudah. Menyatukan dua kepala, satu kepala yang sudah dewasa, satu kepala terkadang seperti anak-anak. Dibesarkan dengan segala demokratis, harus di over protective sama org baru dalam hidupnya. Meski awalnya gak bs terima, siapa sih nih orang larang ini itu. Tapi, yg di larang memang berefek buruk ke saya. (Dilarang makan permecinan) sy pny maag gengs. But, Alhamdulillah being his wife, I am so lucky. 

Setelah menikah dengannya, banyak org yg terkejut. "Hah, ka wandi nikah sm anik?" Or
Ka wandi nikah sm ka anik? Ciwi2 yg bilang

Tp, ada juga sih yg mengatakan "kenapa wandi si nik gak si ini aja?" Laki2 yg bilang.

Banyak orang yg kaget, abang nikah dengan saya karna merasa gak pantes. Abang yg terkenal pintar dan sy yg begitu adanya.. 
Yg kaget kenapa harus wandi, I known he was jealous.  😊

Banyak juga yang katakan,wah masyaallah Barokallahu fiik, seneng deh. Gak nyangka ka Anik.

Meski pernah ada rasa minder bahkan terkadang sampai saat ini karna abang sekolah tinggi, teman-temannya jg gak kalah pinternya. Saya yg hanya begini aja. Hmm

Dan setelah 9 tahun bersama, teman-teman yg sangat dekat dengan kami. Padahal beliau adalah teman abang dulu di UI. "Wandi, lo beruntung dapatin anik". 
Teman-teman yg dekat dengan kami, Kalian cocoklah..
Wandi beruntung banget lo.. 
(Pujian ni gak maksud buat sombong y)


Dan Alhamdulillah sampai saat ini abang gak pernah merendahkan status saya yg cuma s1 UIN, abang jg ga pernah memaksa untuk lanjut kuliah. Abang selalu support kegiatan yg bermanfaat untuk saya. Karna dari awal kami menikah, tujuan kami bukan sm2 akan sekolah setinggi-tingginya. Kita bermanfaat untuk banyak orang sesuai passion kita. Alhamdulillah being his wife, so Greatful.


Dengan segala kekurangan saya, sering kali abang lengkapi. Begitupun sebaliknya.
Abang ga pernah bilang engga tapi, beliau selalu mengelak. Contoh waktu di saudi mau ngemall bareng teman2 ibu2 indo. Abang gak bilang gak boleh tapi, abang jawab 
 "Una tega ninggalin kita ber3? Abang anter aja ya". Atau mau di ajak ke supermarket A, jawaban abang "sama itu isinya sm supermarket B". Klo di inget-inget lucu. Begitu cara abang sayang sama istrinya. Menghindari yang engga-engga. Karna abang tau setelah ngumpul biasanya saya yg jd Insecure. 😄😅
Meski terkadang saya lupa kebaikan2nya. 😁
Tapi, saya gak akan lupa abang yg selalu berusaha membuat saya bahagia dengan caranya.

Menikah memang ibadah yg paling berat, tapi bila menikah dengan orang yang tepat. Bukan cuma bahagia yang di dapat tapi, juga ada sakinah, mawaddah, dan warahmah.. mdh2an hingga Jannah jg di embat (betawi style). :)


 رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَ ٰ⁠جِنَا وَذُرِّیَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡیُنࣲ 
وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِینَ إِمَامًا
Aamiin..
❤️ una



Oct 15, 2022

Keluar dari Zona Nyaman

Delapan tahun merantau di negara SA, terasa sekali nyamannya. Sudah tau ritme kehidupannya, sudah tau apa yg harus dilakukan ini dan itu, hidup terasa tenang karna menjadi kaum mayoritas, masih banyak hal lain.. Alhamdulillah alhamdulillah..

Ketika abang mendapatkan pekerjaan di negeri minoritas muslim. Wah banyak sekali kekhawatiran dari seorang ibu dan istri. 

Setelah 8 tahun, harus pindah dan keluar dari zona nyaman. Itu tidak mudah, berat, apakah nangis? Pasti! (Thank you abang for your hug your sholder, your ear for listen, for everything) masyaallah tabarakallah 

Dari negara terpanas pindah ke negara terdingin. Sampai negara ni disaat salju tebal. Kenapa-mana bingung, ngajak anak keluar ribet, teman2 Indonesia rumahnya jauh2, dan masih banyak hal lainnya. Alhamdulillah ala kulli hal. Semua yg terjadi pokoknya bikin kita makin kuat dan solid bersama keluarga. Dan menerima takdir lebih ikhlas.

Semua itu wajar ketika merasa kesulitan di zona baru, tapi Alhamdulillah bini'matihi tatimmush sholihaat.. skenario Allah itu gak pernah salah. Allah menempatkan kita dimana pun pasti ada hikmah. Dan semua itu tidak sia-sia. 

Keluarga dan teman-teman di negara sebelumnya hangat sekali. Jangan tanya soal sedekah atau berbagi makanan. Mereka benar-benar berlomba-lomba dalam kebaikan. Sering jalan bareng, tp karna sama2 dengan mobil masing2, menurutku attachmentnya berbeda. Teman-teman di sini sama hangatnya, yang membedakan kita lebih sama2 kemana-mana naik publik transportasi. Bisa lebih banyak ngobrol, menerima, lebih mengenal satu sama lain secara dalam. Alhamdulillah 
Bukan berarti melupakan teman lama, tidak sama sekali. Semua punya kenangan tersendiri di hati. 😊

Keluar dari zona nyaman pasti berat, tapi ternyata diluar tak kalah indah dan nyaman kok. Allah gak mungkin berbuat zalim ke hamba-Nya. Yang terjadi Dia memberikan banyak kesempatan, memori yang sangat indah di sini padahal belum ada setahun.

Alhamdulillah masyaAllah Tabarakallah dari segi karir, Alhamdulillah abang punya keluarga risetnya di sini. Abang berada dibawah professor 15 terbaik di dunia dalam bidang baterai. Minggu lalu, abang kasih kabar bahwa risetnya di apresiasi sangat bagus. Hingga abang dpt kesempatan pergi conference besar di dunia baterai bareng professornya. Insyaallah tahun depan MasyaAllah tabarakallah.. ❤️ 

Ketika kamu akan keluar di zona nyaman, tenang aja kamu akan tetap nyaman. Selama ada Allah di hatimu, kawan. 

Ketika kita ridho atas semua takdir yang Allah berikan, sama sekali tidak gelisah. Menerima dengan ikhlas dan ridho bahwa Allah Yang Paling Tahu yang terbaik buat hamba-Nya. 

Kalo di tanya mau balik lagi ke negara sebelumnya? 
Sejujurnya,  aku sudah di tahap pasrah. Bahkan lebih condong di sini. Entahlah. Yang pasti aku mengajukan ke abang,  kembali ke negara muslim mayoritas tapi belum Indonesia ya, 😁untuk Hijaz supaya lebih mudah beribadah dan lebih mengenal siapa Tuhan-Nya.
Klo skenarionya berbeda, sayapun sudah siap dengan apapun itu.. gak mau ngoyo..karena kebahagian bukan dari banyaknya harta, tp hati yang menerima dengan apa yang ada. 
Alhamdulillah 😘 


-Anik-
Lagi-lagi tidur awal
Dan sulit untuk tidur kembali.



Oct 13, 2022

Pelajaran dahulu untuk kuat di masa depan



Menjadi anak tengah sejak kecil sudah di tuntut untuk mandiri dan bertanggungjawab. Ternyata kemandirian dimasa kecil adalah bekal yg Allah siapkan untuk menghadapi masalah-masalah yang terjadi tahun demi tahun di masa depan.

Tak pernah ada yang tahu tentang masa depan tapi, kita dilarang untuk diam, berpangku tangan.

Nasihat dari Imam syafi'i
"Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)".

Pindah dari satu negara ke negara lain, dengan kondisi lingkungan, budaya yang berbeda. Tapi, di sanalah kita belajar menerima. Bahwa takdir Allah memang tak pernah mengecewakan hamba-Nya. Selalu ada hikmah di setiap fase kehidupan.

Hidup asing di negara orang, merupakan tantangan baru dan keluar dari zona nyaman. Aku bisikan ya..😁 "itu berat" tapi, tenang aja, selama percaya dan yakin
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّٰهِ ٱلْعَلِيِّ ٱلْعَظِيمِ

Nothing worry about it (gak perlu khawatir ttg itu)

Betapa banyak keahlian yang muncul setelah merantau. Mulai bisa masak, bisa bercocok tanam, mengenal olahraga baru, bahkan belajar cara menganti ban sepeda, dan terpenting belajar menerima perbedaan.

Hidup di negeri minoritas, memang sangat tertantang untuk menjalankan ibadah tapi, disanlah tempat ujiannya. Bagaimana dengan kondisi berbeda, tetap menomor satukan Allah Sang Pencipta.

📷 our first family picture Autumn in Sweden

Many thanks to my teams. Alhamdulillah bini'matihi tatimmush sholihaat

#kisahanikdiuppsala #keluargahebatAW #merantau #livinginsweden #uppsala #swedia #mamarantau #indonesianlivinginsweden #bless #alhamdulillah

Sep 29, 2022

Menjadi Ibu


Menjadi ibu yang berkerja di ranah domestik atau di ranah publik, mereka hebat. 
Keduanya pernah saya rasakan. Keduanya pun sama-sama melelahkan. 

Pernah ada di posisi, iri dengan teman yg berkerja  punya penghasilan sendiri, menjalankan apa yg menjadi passionnya. 
Tapi, pernah ada di posisi juga, kangen anak, kangen main bareng anak, kangen di ikutin kemana-mana. Begitulah menjadi manusia. Suka mengeluh..

 Di zaman sekarang ini, banyak yg mempromosikan untuk tidak memiliki anak setelah menikah. Buatku pribadi, tidak ada salahnya selama ada alasan syar'i. Misal karna sakit yg akan membahayakan, mengganggu kesehatan mental. 

Kenapa kamu mau punya anak, meski tau sangat melelahkan menjadi ibu? Surga!

Ada surga di kaki ibu. Hihi :D
Belum ada yang menjamin saya masuk surga, sy merasa ibadah saya begini-begini aja. Saya hanya berusaha apa yang saya lakukan bisa jd tabungan di akhirat saya kelak. Semoga anak-anakku kelak menjadi anak sholeh yang akan mendoakan saya. Semoga apa yang saya ajarkan ke mereka, bs bermanfaat sehingga bisa menjadi amal jariyah.
Lelah? Pasti
Tapi, bukankah dunia ini tempat kita berlelah-lelah? Istirahat kita yang hakiki adalah di surga-Nya Allah. 

Sebelum memulai sesuatu, bacalah Bismillah sehingga semua ternilai ibadah. Insyaallah ❤️ 

Teruslah Berdoa



Saya percaya dan yakin banget Allah akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya.
Meski terkabulnya cepat atau tertunda. Allah Yang Maha Menepati Janji, Dia akan menjawab-Nya di waktu yg tepat.

Beberapa hari ini hujan turun, Di tengah rintik hujan, sambil mengayuh sepeda untuk menjemput Hijaz. Tiba-tiba di tengah jalan, sambil melihat daun-daun yang mulai menguning, terpikirkan akan jawaban Allah yang telah mengabulkan doa saya setelah 10 tahun dengan cara terbaik-Nya.

Swedia, dengan negara yg tak pernah terpikirkan dalam hidup sy bisa tinggal di sini. 10 tahun yg lalu, saya bermimpi, berdoa untuk bs berkunjung ke negara yg memiliki 4 musim. Tapi, bukan Swedia. Allah jawab dengan indah sekali skenario-Nya.

Saya bukan dari keluarga yg bergelimangan harta, bukan juga anak yg pinter2 banget, tp sy sangat percaya, ada Allah yg akan mengabulkan doa saya.

Allah kabulkan bukan hanya mengunjunginya tapi, juga sy merasakan tinggal di negara yg memiliki 4 musim. Merasakan musim semi, musim dingin, musim panas, dan sekarang musim gugur. Masyaallah tabarakallah

"Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad)

Nasihat Umar bin Khattab pernah berkata, “Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa.”

"Dan bila permintaanmu pada-Nya belum juga diijabah, teruslah meminta, karena mengulang-ulang sebuah doa itu seperti kayuhan sepeda, suatu saat ia akan membawamu pada yang kamu tuju".

#berdoa #semangat #alhamdulillah #greatful #thanks #ceritanik2022 #mimpiyangterwujud #Islampost #janganberhentiberdoa

Sep 22, 2022

Ujian Pernikahan

Kalo kalian dengerin kajian tentang pernikahan, pasti sering banget denger kalo pernikahan adalah ibadah terpanjang. Yup.. bukan sholat, bukan puasa, zakat, atau haji ibadah terpanjang, tapi pernikahan..
Akad nikah adalah perjanjian yg paling agung. Yang menggetarkan Arsy-Nya. Itu sebabnya jangan sekali-kali memainkan pernikahan.

Pernikahan juga di katakan 1/2 agama. Karna pernikahan ibadah terpanjang dan hadiahnya surga. Ujiannya pun dari sisi mana saja. 

Satu tahun pertama, masa kaget-kagetnya karna mulai tampak ego dan kebiasaan-kebiasaa masing-masing 😁. Tapi, kalo ud melewati 3-5 tahun pertama katanya lancar, insyaAllah selanjutnya ^^.

Tapi, bukan berarti tanpa ujian. Dalam pernikahan, ada yg di uji dengan pasangan, anak, ada yg di uji dari keluarga pasangan, keuangan, pergaulan, jabatan, dll.

Yang paling penting memang keterbukaan dalam komunikasi. Bahkan urusan "kasur" pun harus terbuka. 

Kenapa ada yg namanya mendua/di duakan dalam pernikahan? Padahal kita sering kali melihat, pasangan tersebut mesra/baik-baik saja. 

Apa yg terlihat, tak menjamin mereka sedang baik-baik saja. Pernah mengalami di sekeliling orang terdekat menduakan pasangannya atau diduakan oleh pasangannya. Dari pendapat mereka karena pasangannya sudah berubah. Kurang perhatian, tidak ada waktu bersama, ngobrol, atau tanpa ada komunikasi, sibuk masing-masing. Ketika masalah hadir, menganggap yasudahlah tanpa mencari solusi. Jauh dari Allah juga menjadi penyebabnya. 

Ketika sudah mengalami hal-hal yg diatas. Datanglah orang baru yang mengisi hal-hal yang "hilang". 

Maka benar laki-laki harus menjaga pandangan, begitupun perempuan. Harus menjaga keelokan tubuhnya agar tidak mudah di ganggu. 

Ketika hati sudah terpaut dengan orang lain. Jadi membandingkan pasangan kita dengan orang lain. Jadi, kufur/tidak bersyukur. Padahal setiap manusia tidak sempurna.

Ketika komunikasi kita dengan Allah, baik, dan komunikasi pasangan kita dengan Allah baik. Insyaallah semua akan baik-baik saja. Terlebih pernikahannya memiliki visi misi bersama. 

Allah yg menitipkan rasa sayang dan cinta ke pasangan kita. Jangan pernah lewatkan untuk berdoa, agar cintanya terus karena Allah dan Allah jaga. Jangan membuat setan di sanjung-sanjung. 

"Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, ‘Aku telah melakukan begini dan begitu’. Iblis berkata, ‘Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatup un”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, ‘Sungguh hebat (setan) seperti engkau.” (HR Muslim)